Senin, 15 Desember 2014

Kami Menjual Kambing Aqiqah & Qurban Murah Sesuai Syariah
JL. Bunga Raya Kel. Asam Kumbang, Medan. 
Kec : Medan Selayang

Tipe
Harga Kambing
Biaya Masak
Berat Hidup Berkisar/kg
A
Rp 1.000.000
Rp 300.000
16 – 17 kg
B
Rp 1.200.000
Rp 300.000
18 – 21 kg
C
Rp 1.400.000
Rp 400.000
22 – 25 kg
D
Rp 1.600.000
Rp 400.000
26 – 30 kg
E
Rp 2..000.000
Rp 500.000
32 keatas
 
Kami juga menerima pesanan menu masakan, seperti:
Menu Masakan Aqiqah:

1.Sate
2.Gulai
3.Rendang

4.DLL

Harga - harga di atas Sewaktu-waktu Dapat Berubah
Khusus untuk Medan dan Sekitar-nya Biaya Potong Dan antar GRATIS..!!!

Untuk Informasi Dan Pemesanan Silahkan Hubungai Kami di https://www.facebook.com/rahman.hrp Atau Datang langsung ketempat 

Rahman : 081362028813 / 0857 6306 0480

 SALAM AQIQAH RAJANYA KAMBING Mengucapkan : 

Selamat Atas Kelahiran Putra/Putri Bapak/Ibu, Semoga Menjadi Anak Yang Sholeh & Solehah, Amiiin....

Minggu, 14 Desember 2014

Makna Aqiqah

Kata Aqiqah berasal dari kata Al-Aqqu yang berarti memotong (Al-Qoth’u). Al-Ashmu’i berpendapat: Aqiqah asalnya adalah rambut di kepala anak yang baru lahir. Kambing yang dipotong disebut aqiqah karena rambut anak tersebut dipotong ketika kambing itu disembelih.
Dalam pelaksanaan aqiqah disunahkan untuk memotong dua ekor kambing yang seimbang untuk anak laki-laki dan satu ekor untuk anak perempuan.
Dari Ummi Kurz Al-Kabiyyah Ra, ia berkata: Aku mendengar Rasulullah SAW bersabda: “Bagi anak laki-laki dua ekor kambing yang sama, sedangkan bagi anak perempuan satu ekor kambing”. (HR. Tirmidzy dan Ahmad)

Aqiqah Yang Sesuai Dengan Sunnah

Pelaksanaan aqiqah menurut kesepakatan para ulama adalah hari ketujuh dari kelahiran. Hal ini berdasarkan hadits Samirah di mana Nabi SAW bersabda, “Seorang anak terikat dengan aqiqahnya. Ia disembelihkan aqiqah pada hari ketujuh dan diberi nama”. (HR. al-Tirmidzi).

Apakah kambing yang disyaratkan untuk aqiqah hanya yang berjenis kelamin tertentu (jantan/betina)?
Tidak disyaratkan dalam kambing aqiqah harus jantan atau harus betina. Rasulullah shallallahu ‘alaihi wa sallam bersabda:
عن الغلام شاتان وعن الجارية شاة لايضركم أذكرانا كن أم إناثا
“Untuk anak laki-laki dua kambing, dan untuk anak perempuan satu kambing, dan tidak memudharati kalian apakah kambing-kambing tersebut jantan atau betina.” (HR. Ashhabus Sunan, dan dishahihkan Syeikh Al-Albany)
Berkata Al-’Iraqy rahimahullahu (wafat tahun 806 H):

وَالشَّاةُ تَقَعُ عَلَى الذَّكَرِ وَالْأُنْثَى مِنْ الضَّأْنِ وَالْمَعْزِ فَاخْتَارَ النَّبِيُّ صَلَّى اللَّهُ عَلَيْهِ وَسَلَّمَ فِي عَقِيقَةِ وَلَدَيْهِ الْأَكْمَلَ وَهُوَ الضَّأْنُ وَالذُّكُورَةُ مَعَ أَنَّ الْحُكْمَ لَا يَخْتَصُّ بِهِمَا فَيَجُوزُ فِي الْعَقِيقَةِ الْأُنْثَى وَلَوْ مِنْ الْمَعْزِ كَمَا دَلَّ عَلَيْهِ إطْلَاقُ الشَّاةِ فِي بَقِيَّةِ الْأَحَادِيثِ
“Dan الشاة (kambing) –dalam bahasa arab- mencakup jantan dan betina, baik dari jenis المعز (kambing yang berambut) ataupun jenis الضأن (domba/kambing yang berbulu tebal).
Dan Nabi shallallahu ‘alaihi wa sallam memilih ketika aqiqah kedua cucunya memilih yang paling sempurna, yaitu domba jantan, dan ini bukan pengkhususan, maka boleh dalam aqiqah menyembelih kambing betina meskipun dari jenis المعز, sebagaimana hal ini ditunjukkan oleh kemutlakan lafadz الشاة dalam hadist-hadist yang lain.” (Tharhu At-Tatsrib, Al-’Iraqy 5/208)

Wallahu a’lam.

Doa Menyembelih Hewan Qurban


Doa menyembelih hewan kurban untuk diri sendiri dan keluarga: “Bismillah, wallahu akbar. Allahumma minka wa laka ‘annii wa ahli baitii. Allahumma taqabbal minnii wa ahli baitii.”


Doa menyembelih hewan kurban sapi atau unta oleh seorang dari ketujuh yang memiliki hewan kurban tersebut: “Bismillah, wallahu akbar. Allahumma minka wa laka ‘anni wa fulaanin wa fulaanin wa fulaanin wa fulaanin wa fulaanin wa ahli baitinaa. Allahumma taqabbal minna wa ahli baitinaa.”
Doa menyembelih hewan kurban berupa sapi atau unta oleh orang lain yang tidak termasuk dari ketujuh mudhohhi tersebut: “Bismillah, wallahu akbar. Allahumma minka wa laka ‘an fulaanin wa fullanin wa fulaanin wa fulaanin wa fulaanin wa fulaanin wa fulaanin wa fulaanin wa ‘an ahli baitihim. Allahumma taqabal minhum wa ahli baitihim.”
Catatan: Untuk lafadzh “Fulaan” diganti dengan nama mudhohhi atau orang yang berkurban.